KENNY SUNG

Rising Your Standard

Mengapa Kaum Perantauan banyak yang berhasil

Orang PerantauanSering mendengar bahwa kaum perantau lebih mudah sukses? Barangkali Anda mengenal beberapa diantara mereka. Mungkin beberapa teman Anda juga ada yang seperti itu. Bila ada, sudahkah Anda tahu mengapa mereka bisa begitu? Berikut akan dipaparkan beberapa alasan mengapa kebanyakan perantau itu bisa lebih sukses. Semoga Anda yang membacanya, sekalipun Anda bukan seorang perantauan, bisa mendapatkan semangat yang sama, berikut paparannya:

Artikel pengembangan diri

1. Kaum perantau datang dengan tujuan mencari uang.

Mungkin jarang sekali ditemui seorang pendatang yang mengatakan tidak datang untuk mencari uang di tempat yang baru. Mereka melakukan pekerjaan bukan semata karena mencintainya tetapi lebih karena mereka harus mendapatkan banyak uang untuk membiayai hidup mereka di tempat orang dan membawa kemakmuran bagi keluarga mereka di kampung halaman. Dengan begitu, anak dan cucu mereka kelak bisa menjalani kehidupan yang lebih mapan dan sejahtera dari mereka sekarang.

Mereka cenderung untuk berpikiran praktis. Mereka berani untuk melakukan semua pekerjaan asal pekerjaan itu mendatangkan keuntungan berlimpah untuk mereka. Kebahagiaan adalah hal terakhir yang mereka pikirkan karena semua tenaga, pikiran dan waktu tercurah untuk mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya.

Sekarang kita dapat lihat bagaimana perbedaan kaum perantau dari kaum setempat. Kaum setempat cenderung ditatar untuk menjalani pekerjaan yang mereka sukai, sementara uang menduduki posisi sekian. Dengan pola pikir yang lebih praktis dan pragmatis, kaum perantau selalu berusaha mencetak untung dengan segala hal yang ada di sekitar mereka. Mereka lebih realistis dalam hal pekerjaan dan karir.  Sementara itu, kaum setempat cenderung lebih idealis. Mereka mengejar pekerjaan dan karir yang mereka damba dan menolak untuk tunduk pada realitas yang ada. Cita-cita seorang pendatang mungkin menjadi pedagang yang sukses, atau seseorang yang kaya. Sangat sederhana dan realisitis. Sementara orang setempat yang bukan pendatang lebih memilih untuk bermimpi setinggi bintang. Mereka hendak menjadi astronot, pelukis, pembalap, atau cita-cita lain yang lebih menghabiskan uang daripada mendatangkan untung dalam waktu singkat.

2. Kaum pendatang banyak yang pecandu kerja.

Tidak ada yang menyukai  bekerja lebih dari para perantau. Tidak ada istilah dalam kamus mereka untuk berhenti menikmati waktu dan hidup. Setiap detiknya adalah uang. Dan tidak semestinya mereka menghabiskan waktu tanpa rasa bersalah. Bekerja selama 40 jam per minggu mungkin terdengar cukup membosankan dan menekan bagi kaum bukan pendatang. Tetapi lain halnya dengan kaum pendatang, semakin panjang jam kerja yang mereka harus jalani, semakin mereka senang karena itu berarti akan ada lebih banyak uang dan penghasilan yang bisa ditabung.

Kaum pendatang bisa bekerja selama 60, 70, bahkan 80 jam per minggu. Mungkin terdengar seperti sebuah fenomena yang tidak sehat bagi keseimbangan hidup seseorang dalam berbagai aspek. Namun, begitulah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan demi mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak. Bahkan memiliki lebih dari satu pekerjaan penuh waktu bukanlah hal yang aneh ditemui pada kaum perantau.

3. Investor sangat menyukai pendatang.

Sadarkah Anda bahwa kaum pendatang lebih seksi bagi para investor? Mereka menarik investor dengan mudah bak sekuntum bunga menarik seekor lebah untuk mengisap sari madunya. Ketertarikan investor berhubungan dengan karakteristik pendatang yang workaholic. Kaum pendatang umumnya akan bekerja jauh lebih keras dalam suatu perusahaan jika mereka ditawari kepemilikan saham perusahaan yang dimaksud, meskipun itu hanya sedikit. Mereka akan bekerja lebih rajin dibanding jika diupah untuk bekerja lebih dari 40 jam seminggu.

4. Kaum pendatang lebih gigih dan bertekad baja.

Tekad membara untuk meraih cita-cita adalah salah satu kelebihan para pendatang. Mereka tidak ragu bekerja gratis pada awalnya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Jika mereka ditolak atau dianggap tidak layak, mereka akan berjuang keras untuk membuktikan bahwa mereka tidak pantas untuk ditolak dan layak untuk dipilih (Mental Entrepreneur).

5. Kaum pendatang tidak boros.

Hal yang sering saya lihat dari kaum pendatang, apalagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana yang mengalami keterbatasan dalam kondisi ekonomi, menabung dan berhemat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup mereka. Tidak ada celah untuk bisa dimanfaatkan sebagai alasan berperilaku boros dan ceroboh dalam pengelolaan keuangan. Mencari uang sangat susah sehingga mereka benar-benar sangat menghargai uang meskipun itu sedikit. Mereka bersedia melakukan segala cara agar dapat menghemat. Tidak ada gengsi atau rasa malu yang harus dipertahankan karena itu bahkan tidak terpikirkan oleh mereka. Mereka secara agresif melakukan penghematan dalam segala aspek. Kaum pendatang selalu bisa menjadi teladan bagaimana menjalani kehidupan yang sederhana dan hemat.

6. Kaum pendatang sangat menghargai ilmu dan pendidikan.

Banyak ditemui generasi awal kaum pendatang yang kurang beruntung dalam hal akademik. Mereka biasanya kaum yang terpinggirkan di tanah asal mereka. Dan mereka datang dengan pikiran yang lain dari pedahulunya. Mereka sangat menjunjung tinggi arti dan peran penting pendidikan dalam kehidupan mereka. Pendidikan yang tepat bisa menjadi awal investasi yang menguntungkan di masa depan. Ilmu adalah properti yang bisa menaikkan kualitas pribadi, yang akhirnya juga menaikkan tingkat pendapatan dan penghargaan masyarakat terhadap diri dan keluarganya. Mereka sadar pendidikan adalah sebuah jalan keluar bagi kesempitan kehidupan yang mereka alami sekarang. Tanpa memandang usia, mereka tidak ragu untuk kembali ke bangku kuliah atau belajar di sektor informal dengan mengambil kursus. Pendidikan adalah tangga yang memungkinkan mereka untuk sampai di strata ekonomi yang lebih baik. Kuliah ekstensi sambil bekerja mencari penghasilan adalah cara lain yang biasa mereka tempuh.

7. Kaum pendatang adalah orang-orang optimis yang tidak suka mengeluh.

Seberapapun kerasnya kehidupan yang dijalani kaum pendatang, mereka masih terus dapat bersyukur karena keadaan itu masih lebih baik dari saat mereka belum berpindah ke tempat yang baru. Keluhan jauh dari kehidupan baru mereka karena mereka optimis dalam menjalani kehidupan.

8. Kaum pendatang bersatu padu.

Unsur kebersamaan dan persatuan yang kuat sangat tercermin dalam suatu masyarakat pendatang. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan, yang pada gilirannya memperkokoh solidaritas di antara anggota-anggotanya.

Kita bisa lihat kebersamaan itu bahkan saat mereka belum mendarat di tanah asing. Kaum pendatang suka berdatangan dalam jumlah besar, bukan seorang diri. Dan pendatang yang sudah lama menetap di tanah asing biasanya akan dengan sukarela membantu pendatang baru yang masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal ekonomi. Para senior umumnya dengan senang hati mencarikan tempat tinggal, harta benda, pekerjaan, dan sebagainya. Mereka bahu membahu untuk mencapai kesuksesan. Dan saat pendatang yang baru telah sukses, ia akan dengan senang hati juga membantu pendatang lainnya yang belum seberuntung dia.

 

Demikian sedikit karakteristik kaum pendatang yang bisa saya bagi. Saya yakin masih ada ciri-ciri lain yang dapat ditampilkan karena setiap daerah tentu memiliki budaya tersendiri ketika hendak merantau ke suatu daerah lainnya. Contohnya dari Kaum saya para keturunan Tionghoa Kalimantan biasa senang bergerombol dan bekerja sama ketika menemukan peluang usaha di daerah baru. Semisal salah seorang dari kaum saya mencoba membuka usaha di kota tertentu, ketika berhasil biasa mengajak saudara-saudara lainnya untuk mencoba hal yang sama ditempat itu dan membentuk suatu komunitas tersendiri yang bersatu padu membangun satu sama lain. Jadinya enak donk sukses berbarengan ataupun saling membantu ketika salah satu sedang bersusah payah. Bagaimana dengan pengalaman pembaca lainnya? Ada yang mau sharing juga?

Leave a Response